RSS

Monthly Archives: May 2010

Ideologi Terorisme Di Indonesia

Dalam 10 tahun terakhir, Indonesia akrab dengan aksi terorisme. Dan aparat kepolisian telah berhasil meringkus dan menembak mati sejumlah teroris di negeri ini. Sudah tak terhitung jumlah penggerebekan yang dilakukan oleh kepolisian ke tempat persembunyian para teroris dan sebagian menewaskan mereka. Mulai dari Dr Azahari, Noordin M Top, hingga Dulmatin.

Pertanyaannya, mengapa persoalan terorisme tidak ada tanda-tanda segera berakhir di republik ini? Mengapa teroris terus bermunculan? Sampai kapan kepolisian harus menembak mati para teroris?

Sejauh ini kepolisian hanya memberantas teroris, bukan terorisme. Walaupun banyak tokoh teroris ditangkap dan ditembak mati, terorisme di negeri ini tak menurun signifikan. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya generasi baru teroris, seakan menggantikan teman-temannya yang ditangkap atau ditembak.

Ibarat pepatah, teroris beregenerasi dengan pola ”mati satu tumbuh seribu”. Noordin, Dulmatin, dan lainnya memang mati ditembak polisi, tetapi apa artinya jika kemudian melahirkan generasi baru dalam jumlah yang lebih banyak?

Oleh karena itu, pemberantasan terorisme tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan militeristik. Pendekatan militeristik hanya cocok memberantas para teroris, bukan terorisme. Pemberantasan terorisme membutuhkan penyadaran yang mampu menghapus ideologi keras ini.

Disalahpahami

Setidaknya ada empat penyebab adanya ideologi kekerasan dan terorisme. Pertama, adanya beberapa ajaran dalam agama yang disalahpahami. Dalam Islam ada ajaran jihad dan mati syahid, yang dianggap membenarkan aksi-aksi keras teroris.

Padahal, jihad dan mati syahid tidak seperti yang teroris pahami. Jihad adalah prinsip perjuangan suci yang tidak selalu berarti perang fisik. Kalaupun terjadi perang fisik, jihad memiliki aturan dan mekanisme baku amat ketat, seperti tidak boleh membunuh anak-anak dan perempuan, tidak boleh merusak rumah ibadah dan fasilitas umum termasuk hotel.

Begitu juga dengan konsep mati syahid. Ajaran ini merupakan penghormatan puncak dari Tuhan kepada mereka yang menegakkan ajaran-Nya dengan cara-cara luhur, bukan dengan cara kekerasan hina seperti bom bunuh diri.

Kedua, ketidak-adilan global. Seperti yang sering diakui para teroris, mereka beraksi antara lain untuk melawan perlakuan tentara NATO di Afganistan, perlakuan Amerika Serikat di Irak, dan perlakuan Israel terhadap rakyat Palestina.

Bila aksi terorisme dilakukan di Indonesia dengan tujuan melawan ketidak-adilan global, hal ini jelas salah alamat. Dari segi apa pun, Indonesia tidak mempunyai keterkaitan dengan pembantaian yang terjadi di Irak, Afganistan dan Palestina.

Oleh karena itu, pemberantasan terorisme harus menyentuh persoalan ketidak-adilan global. Negara-negara besar seperti AS harus diimbau agar bersikap adil terhadap bangsa lain dan menghentikan segala macam bentuk politik penjajahan. Bila tidak, pemberantasan terorisme tak ubahnya mematikan lilin dengan semburan bensin.

Ketiga, ketidak-adilan negara terhadap warga-bangsanya terutama dalam persoalan hukum, pendidikan, dan kesejahteraan. Sebagai contoh, di Republik ini hukum hanya tajam tatkala menikam ke bawah, tetapi acap kali tumpul tak berdaya ke atas.

Hal yang lebih menyakitkan adalah persoalan kesejahteraan, terutama pada era politik ”buka-bukaan” kebusukan para elite seperti sekarang. Mereka yang berada di jajaran elite—pejabat, politisi, dan lainnya—begitu mudah mendapatkan uang dalam jumlah ratusan juta, miliaran, bahkan triliunan. Adapun rakyat biasa sangat susah menutupi segala kebutuhan sehari-hari. Padahal, kemiskinan atau kesengsaraan akan membuat seseorang melakukan apa pun walaupun itu jelas terlarang (sebagaimana Hadis Nabi Muhammad SAW).

Dengan demikian, pemberantasan terorisme harus juga menyentuh persoalan ketidak-adilan negara ini. Sangat tidak cukup bila pihak kepolisian hanya terus memburu, meringkus, dan membunuh para teroris, sementara persoalan hukum, pendidikan, dan kesejahteraan hanya jadi materi kampanye pemilu.

Keempat, ideologi negara agama. Pada tahap tertentu ideologi negara agama turut menyuburkan paham terorisme. Karena sebagaimana diakui para teroris, mereka menjalankan semua aksinya dengan tujuan mendirikan negara agama. Bagi mereka, pemerintahan yang ada saat ini (termasuk Indonesia) mengikuti sistem kafir.

Kecenderungan salafisme

Ideologi negara agama terus bertahan karena mengendap di balik kecenderungan salafisme di kalangan pemeluk agama. Salafisme adalah kecenderungan yang membayangkan masa lalu sepenuhnya suci, ideal, sempurna, tanpa kekurangan apa pun. Pada era suci inilah negara agama diyakini pernah ada dan berdiri tegak dengan nilai-nilai luhur yang dipraktikkan paripurna.

Perjuangan para teroris dan teman-temannya ini menimbulkan persoalan sangat serius. Bukan hanya karena secara normatif tidak ada ajaran yang membakukan sistem pemerintahan dalam Islam, tetapi lebih daripada itu karena perjuangan negara agama akan mengalami benturan dan memakan banyak korban, terutama di era negara-bangsa seperti sekarang.

Maka, pemberantasan terorisme harus dimulai dengan membasmi keempat ideologi di atas. Bila tidak, terorisme tidak akan pernah selesai walaupun sudah ratusan atau bahkan ribuan teroris ditangkap dan ditembak mati oleh polisi.

Sumber: Kompas

 
Leave a comment

Posted by on May 18, 2010 in Artikel

 

Penderitaan Bilqis Anindya Passa

Bilqis Anindya Passa, seorang bayi yang baru berumur 19 bulan harus berjuang mengatasi penderitaaannya karena penyakit ganas yang menyerang tubuhnya. Penyakit itu adalah Atresia Bilier yaitu penyakit dimana tidak terbentuknya saluran empedu atau tidak berkembang secara normal sehingga mengakibatkan perut membesar (buncit). Bilqis menderita penyakit tersebut setelah 2 minggu semenjak kelahirannya. Dan perlu operasi khusus untuk menangani penyakit tersebut.

Untuk biaya operasi dibutuhkan Rp 1 milyar sedangkan keluarga Bilqis adalah keluarga yang sederhana dan jumlah itu terlalu besar untuk mereka. Keluarga Bilqis pun pasrah dan operasi penyembuhan Bilqis sepertinya mulai menjauh dari mereka. Tetapi masyarakat tidak tinggal diam. Begitu mengetahui Bilqis tidak memiliki biaya untuk operasi, Sekelompok orang yang bersimpati pada Bilqis lalu membuat gerakan ‘Koin untuk Bilqis’ untuk mengumpulkan dana operasi. Dan akhirnya terkumpulah dana bantuan dari masyakarakat yang jumlahnya mencapai  ratusan juta. Dan akhirnya Bilqis dirawat di rumah sakit.

Bilqis telah menjalani perawatan di RSUP dr Kariadi sekitar dua bulan. Anak ini semula menempati Ruang Merak Nomor sekitar satu bulan sebelum dipindahkan ke Ruang Merak Nomor 1 pada 5 Maret 2010 karena pertimbangan sterilitas dan sirkulasi udara. Namun, tim cangkok hati memindahkan Bilqis ke ruang PICU pada 10 Maret 2010 karena terkena pneumonia. Balita ini harus menjalani perawatan lebih intensif untuk mengobati penyakitnya itu.

Bilqis kemudian dipindahkan ke Ruang Merak Nomor 1. Namun, karena kondisinya terus memburuk, kembali dipindahkan ke ruang PICU pada Rabu (7/4) lalu, hingga akhirnya bayi lelaki  yang banyak mendapat simpati dari masyarakat tersebut meninggal dunia pada Sabtu (10/4) sekitar pukul 15.15 WIB.

Melihat peristiwa tersebut, sebagai manusia normal sudah sewajarnya kita merasa iba atau prihatin karena penderitaan yang dialami oleh seorang balita yang baru berumur belasan bulan. Selama berbulan-bulan bilqis berjuang di rumah sakit untuk tetap hidup. Walaupun pada akhirnya nyawa bilqis tak terselamatkan tetapi perjuangannya tidak gagal. Karena dengan kisah penderitaannya dan semua yang telah dilakukannya telah membuka mata jutaan orang di Indonesia untuk saling membantu dan tetap bersyukur serta menghargai hidupnya karena hidup itu adalah anugrah. (Darma)

 
Leave a comment

Posted by on May 18, 2010 in Artikel

 

Ketidakadilan dalam kasus Susno Duadji

Beberapa hari ini hampir semua media baik itu cetak ataupun elektronik ramai-ramai memberitakan “nyanyian” Komisaris Jenderal Susno Duadji, mantan Kabareskrim di tubuh institusi Polri. Susno menyebut ada sejumlah anggota kepolisian berpangkat jenderal yang terlibat sebagai makelar kasus (markus) dalam kasus pengemplangan pajak.
Fenomena nyanyian Susno ini bukan yang pertama kalinya. Dia pernah pula terlibat sebagai saksi yang meringankan mantan Ketua KPK Antasari Azhar dalam kasus pembunuhan berencana atas Direktur Rajawali Putra Banjaran, Nasruddin Zulkarnain.
Melihat dari sejarahnya, apa yang dilakukan Susno Duadji merupakan tindakan berani. Karena selain ia masih berpangkat komisaris jenderal, ia juga masih berstatus anggota polisi aktif. Melihat tindakannya ia terkesan sudah tidak memedulikan lagi dampak dari tindakannya yang membongkar borok di institusinya sendiri. Yang patut diperhatikan adalah apa sebenarnya motif di balik tindakan Susno.
Dalam konteks studi psikologi, Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan bahwa untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari beberapa indikator, di antaranya durasi kegiatan; frekuensi kegiatan; persistensi pada kegiatan; ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam menghadapi rintangan dan kesulitan; devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan; tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan; tingkat kualifikasi prestasi atau produk (output) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan; arah sikap terhadap sasaran kegiatan.
Ketika kita melihat apa yang dilakukan Susno dengan kacamata motivasi, kita lihat kondisi Susno ketika kasus itu dibongkar. Susno Duadji merupakan satu-satunya orang yang menjadi korban ketika konflik Cicak versus Buaya mencapai titik kulminasi. Sebagai satu-satunya korban dari institusi yang ia bela pasti sangat menyakitkan. Hal itulah kemungkinan yang melatarbelakangi munculnya rasa benci, sikap permusuhan serta upaya untuk menyeret mantan rekan-rekannya untuk ikut terperosok bersama dia.
Salah satu hal yang menarik adalah sikap ketabahan yang ditunjukkan Susno dan sikap percaya dirinya yang tak pernah hilang. Dia selalu menunjukkan data dan fakta tanpa rasa takut sedikitpun. Berbeda dengan sikap Brigjen Raja Erizman yang tampak kebakaran jenggot dengan tuduhan yang dilontarkan mantan atasannya tersebut. Hal ini secara kasat mata menunjukkan posisi Susno jauh lebih unggul dari anggota jenderal yang disebut oleh dirinya sebagai makelar kasus.
Dari salah satu motivasi lainnya, yaitu pengorbanan, Susno terlihat siap untuk berkorban semaksimal mungkin. Ia rela dikenai sanksi institusi atas sikapnya tersebut. Bahkan Brigjen Raja Erizman siap memberikan data-data korupsi yang pernah dilakukan Susno. Akan sangat menarik melihat sikap buka-bukaan yang dilakukan seorang jenderal dan mantan atasannya ini.
Walaupun motif yang dilakukan oleh Susno adalah dendam pribadi, sikap Susno patut diapresiasi. Selama ini institusi Polri selalu menjadi closed institution atau sebuah institusi yang tertutup, secara keuangan atau pengawasan. Momentum ini bisa dijadikan sebagai alasan untuk melakukan audit secara transparan terhadap keuangan para pejabat Polri.
Lantas, apakah output yang kemungkinan akan terjadi dari “nyanyian” Susno ini? Ada kemungkinan sikap Susno ini akan berefek pada jatuhnya sejumlah jenderal yang diketahui oleh Susno terlibat dalam sejumlah kasus. Susno memang tidak mendapatkan apa-apa, tapi dia mendapatkan kepuasan karena berhasil melampiaskan kekecewaan atas institusi yang selama ini ia banggakan.
Apa yang dilakukan Susno merupakan sebuah tindakan politik. Karena akan menyeret sejumlah nama penting dalam institusi Polri, bahkan ada kemungkinan sosok Kapolri juga ikut terseret. Ada tiga efek besar yang akan terjadi dari “nyanyian” Susno ini apabila di tarik ke ranah politis. Yang pertama, “nyanyian” Susno akan menjadi menjadi momentum penting untuk melakukan reformasi di tubuh Polri. Kepercayaan masyarakat terhadap institusi ini sangat rendah. Dengan adanya mantan orang dalam yang berani buka-bukaan dan tak mempunyai kepentingan serta tidak takut sanksi, sejumlah kasus diharapkan akan bisa terpecahkan.
Efek besar kedua, kasus ini akan menghapus secara otomatis sejumlah prestasi Polri yang terjadi beberapa hari ini. Yaitu keberhasilan Densus 88 menangkap sejumlah teroris penting yang oleh Amerika dihargai jutaan dolar, seperti Dul Matin dan Noordin M. Top. Bukan hanya itu, “nyanyian” Susno ini juga akan berdampak terhadap semakin tebalnya ketidakpercayaan masyarakat terhadap institusi pengayom dan pelindung masyarakat ini.
Efek ketiga dari sikap Susno adalah lupanya masyarakat terhadap kasus-kasus besar yang terjadi sebelum ini seperti kasus Bank Century. Media sebagai aktor penting dalam pembentukan opini telah mem-blow up secara besar-besaran kasus “nyanyian” Susno, sehingga lama-kelamaan masyarakat akan lupa terhadap kasus yang merugikan negara senilai 6,7 triliun tersebut.
Lepas dari asumsi sebagai pengalihan isu atau adanya tendensi politik tertentu, apa yang dilakukan Susno merupakan sikap yang patut diacungi jempol. Dia berani melawan ketidakadilan yang menimpa dirinya, walaupun kemudian dia harus menanggung risiko yang sangat menyakitkan. Dia berani membuka fakta-fakta yang melibatkan sejumlah mantan rekannya untuk memberikan kebenaran sebegitu bobroknya institusi yang pernah ia bela selama puluhan tahun ini.
Setidaknya sampai saat ini Komjen Susno Duadji telah menjadi bagian dari masyarakat yang berkeinginan dan mempunyai niat untuk membongkar kebobrokan Polri. Mari kita dukung beliau. Namun, alangkah bijaknya apabila Bapak Susno bersedia mengubah motivasi dan niatnya yang semata-mata dendam pribadi menjadi perbaikan dan karena kecintaan beliau terhadap institusi Polri.

Sumber: Media Indonesia

 
Leave a comment

Posted by on May 18, 2010 in Artikel

 

Keindahan Gereja Katedral Jakarta

Bila anda yang pernah berkunjung ke daerah Monas, Jakarta, mungkin anda pernah melihat sebuah bangunan gereja klasik khas Eropa yang berada di pinggir jalan besar dan masih berdiri megah di antara gedung-gedung moderen di sekitarnya. Bangunan itu adalah Gereja Katedral “Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga”. Gereja tersebut merupakan bangunan peninggalan jaman penjajahan Belanda di Indonesia. Gereja yang dibangun pada tahun 1901 menyimpan banyak nilai-nilai historis dan juga memiliki seni arsitektur yang cukup klasik dan menawan.

menara

Gereja Katedral tampak dari depan pada malam hari

Altar gereja yang nampak cantik dan indah

Bangunan dalam Gereja yang nampak bersih dan kokoh

gerbang

Gerbang Gereja dengan hiasanpatung dan tulisan bahasa latin

goa maria

Goa maria tempat jemaat Gereja berdoa

Gereja terlihat sangat menawan dari kejauhan pada sore hari

Menurut Thomas Aquinas, suatu benda dapat dikatakan memiliki unsur keindahan apabila mendatangkan rasa senang bagi yang melihatnya. Dan menurut saya Gereja Katedral Jakarta memiliki unsur keindahan karena bila dilihat dapat memberikan perasaan yang menyenangkan. Dan bila digolongkan, keindahan Gereja Katedral Jakarta dapat digolongkan sebagai keindahan benda buatan manusia.

Gereja Katedral jakarta bukan hanya sekedar indah tetapi juga unik karena dibangun dengan arsitektur klasik khas orang Eropa yang sulit ditemui pada bangunan Indonesia jaman sekarang. Oleh karena itu sudah sewajarnya masyarakat beserta pemerintah turut aktif menjaga bangunan peninggalan Belanda tersebut. (Darma)

 
3 Comments

Posted by on May 17, 2010 in Artikel